Aku bukan pribadi yang ingin menghujat siapapun atau mengagungkan siapapun. Mau dia Presiden, Menteri, Tokoh yang sedang digandrungi juga dibenci. Dunia ini memang sudah diskenariokan dengan cara berpasangan, ada siang ada malam, hitam-putih, baik-buruk, jelek-cantik, membenci-dibenci dan sebagainya. Bagiku, sesuatu yang berlebihan tidaklah berjalan abadi dan keagungan seseorang itu tidak terlepas dari hasil kerja yang sudah menjadi tugas dan kewajiban. Bila itu indah dipandang karena dia berbeda dari lainnya, cukup bersyukur dan berdoa semoga ke depan banyak orang yang mencontoh usaha perjuangannya.
Menilai sosok-sosok yang sejak awal kemunculannya di jagat nyata dan maya, aku yakin tidak satupun yang tidak mengenalnya. Pribadi-pribadi hebat ini membuat sebahagian besar masyarakat memuja mereka. Lumrah saja, sejak gersangnya kehidupan berbangsa dan bernegara, bermasyarakat dan beragama, Nusantara ini kehilangan jejak sosok ksatria yang mampu menciptakan kenyamanan. Sebut saja dari sekian itu adalah tokoh muda berjiwa “hebat” seperti Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, serta Ibu Risma. Kesemuanya pemimpin muda berintelektual tinggi. Menjunjung rasa kecintaan pada tanah air, penderma sejati yang bisa dikatakan tulus berbuat untuk rakyat. Pemimpin selayak mereka merupakan pengharapan besar di tengah kekalutan rakyat Nusantara menghimpun segala persoalan yang berserakan.
Mengingat mereka sama halnya seperti mengingat tokoh-tokoh muda di era 35 sampai 45-an dahulu. Dimana bermunculan para pemberani hasil tempaan kehidupan, demi belajar merubah nasib negerinya mereka tak canggung menyeberang lautan hingga ke negeri orang. Tokoh-tokoh muda pengharapan rakyat yang beratus tahun terkekang dalam kenistaan atas kerakusan kaum kapitalis. Hatta, Syahrir, Yamin, dan lainnya yang mungkin berpuluh lagi dari putra-putri terhebat kala itu, memperkenalkan bagaimana cara melepaskan diri dari jeruji kenistaan. Bukan sekedar intelek namun kehebatannya dihiasi dengan kesantunan yang memancing rasa hormat kita pada mereka. Sejarah mencatat mereka.
Lalu bagaimana dengan tokoh-tokoh yang aku sebut di atas? Sekali lagi, ini tak bermaksud memutus yang terkait, aku hanya ingin menghimpun yang terserak. Lepas dari niat untuk berdiskriminasi pada seseorang, lebih bermaksud bermimpi pada keindahan. Sekian dari mereka telah berkontribusi atas nama nasionalisme, jangan mengelak mereka sebenar-benarnya pemimpin yang muncul ke permukaan hasil dukungan kekeringan harapan yang selama sekian puluh tahun kehilangan identitas kebangsaan. Melupakan kearifan untuk menghormati pemimpin. Untuk itu berjibun asa aku tuangkan agar ketokohan mereka bisa dikenang kalau mungkin dicatat sejarah demi melestarikan kecintaan terhadap Nusantara yang kemudian tersimpan dalam memori anak-cucu bahkan diteladani.
Ahok atau lebih Indonesianis bernama Basuki Tjahya Purnama. Sejak roboh Orde Baru, Ahok menjadi Indonesianis pertama yang sanggup membongkar birokrasi sebagai pemimpin berketurunan Tionghoa. Kemunculan Ahok meluluh-lantakan sifat skeptis bangsa terhadap kebencian pada kelompok berkulit kuning langsat. Sepanjang Orba, peran kaum Tionghoa hanya berkisar pada dunia dagang. Sulit bagi kaum Tionghoa berkiprah jauh meski Nasionalis mereka tak tertutup kemungkinan melebihi keturunan pribumi.
Ahok jelas Tionghoa dilihat dari rasnya tapi bukan berarti Ahok tidak Indonesia. Ahok lahir, besar, berkiprah, bersumbangsih di tanah kelahirannya. Berasal dari pulau yang berada di luar Pulau Sumatera. Karier birokrasinya dimulai ketika ia duduk menjadi orang nomor satu Belitung Timur. Selanjutnya dilirik beberapa Parpol hingga sampailah ia menduduki Wakil Gubernur dan sekarang Gubernur. Duduk sebagai pejabat terpenting di daerah Tingkat I berpusat di Ibukota Negara Nusantara membungkam rasa kesukuan dan kedaerahan kita. Walaupun tentangan berdatangan, nyatanya Ahok masih duduk jadi pemimpin DKI. Meskipun asalnya dari kaum dan umat minoritas, Ahok sanggup, petarung sejati yang mematahkan tradisi birokrasi Nusantara. Ahok luar biasa fenomenal.
Keberaniannya bicara tegas untuk meluruskan kembali tujuan berbangsa di negeri ini, selalu dikaitkan dengan siapa ia bukan bagaimana ia mencoba berupaya memperbaiki jalannya mesin pemerintahan khususnya di Ibu Kota Negara. Akan tetapi sangat disayangkan karena satu sifat temperamen Ahok sering kali mengganjal kepribadiannya. Ahok dikenal sebagai Gubernur yang bicara apa adanya namun tertangkap kesan kepada “pembenci” sebagai Gubernur yang kurang santun atau lebih tepatnya tidak santun.
Aku pikir setiap suku bangsa yang bermukim di Nusantara kita punya kearifan lokal yang mewujud pada kesantunan tradisi. Apalagi bagi suku bangsa Tionghoa. Kesantunan tradisi Tionghoa pula yang aku anggap membuat bangsa tersebut pernah menciptakan salah satu peradaban tertinggi kuno di dunia yang akhirnya juga menjadikan bangsa ini dihormati, yaitu Peradaban Sungai Kuning.
Pastinya moyang Ahok lahir di sana, pastinya juga moyang Ahok menjunjung prinsip-prinsip yang diterapkan dalam kehidupan. Filosofi kehidupan moyang Ahok itu indah. Bangsa ini berjalan atas prinsip-prinsip humanisme, spritualisme, kesalehan, dan kepribadin yang menyatu dalam kehidupan. Dari sinilah, suku bangsa Tionghoa muda diterima oleh dunia. Mereka menyebar di penjuru bumi, yang memudahkan kita menjumpai mereka dimanapun kita berada. Prinsip-prinsip hidup Tionghoa sering dijadikan rahasia kesuksesan menguasai perdagangan, pergaulan antar bangsa. Perhatikan saja film-film Hollywood, di setiap cerita pasti muncul sosok bermata sipit, berkulit kuning berbaur dalam cerita.
Andai saja Ahok lebih santun, bisa jadi ketokohan Ahok terkenang sepanjang zaman. Kebaranian Ahok tersebut dibutuhkan untuk mengembalikan penghormatan bangsa lain kepada Nusantara. Kerja keras Ahok sudah dikagumi, ia bicara tanpa tedeng aling-aling, kebenaran itu mutlak baginya. Ahok hadir memaksa kita agar tidak meminggirkan kaum minoritas yang cinta negeri. Tetapi Ahok tetap Ahok, walau beribu pengharapan kusampaikan padanya, semua dikembalikan padanya. Ahok tetap manusia yang penuh kekurangan terkecuali Ahok mau belajar akan kesantunan. Barang kali bila Ahok bersedia belajar prinsip tradisi Tionghoa, haqqul yakin, Ahok dicintai siapa saja. Tuntut menuntut tidak akan menggeret Ahok ke ranah hukum. Tidak lagi ada tuntutan hukum terhadap Ahok yang sekarang sedang melilitnya. Tidak muncul kasus Kepsek SMA N.3 Jakarta, kasus tuntutan guru honorer, atau kasus pemakian kepada seorang janda yang dihujat maling olehnya dan kasus-kasus yang didominasi hanya karena kurang santunnya Ahok.
Maaf bagi pembaca tulisanku, bila diantara kalian tidak menyetujui isi tulisanku, juga hak kalian sama halnya dengan hak Ahok untuk tetap berkepribadia seperti sekarang keras, tegas, berani, sayang kurang santun. Bila memang masih bisa berharap, alangkah indahnya bila Ahok lebih santun. Yang penting, kesantunan itu diajarkan di sekolah-sekolah dari TK, kesantunan itu juga identitas Nusantara yang dicintai bangsa asing.