Batam, 13 Juli 2013
Assalamulaikum Wr.Wb, Salam sejahtera buat kita semua
Sebelumnya saya mengucapkan beribu maaf andai surat saya ini dianggap tidak berguna bagi
Bapak-bapak kedua pasangan. Semua yang saya tuliskan di sini hanya merupakan
curahan hati saya sebagai salah satu anak bangsa dan pendidik yang mungkin bisa
mewakili hati anak bangsa dan pendidik lain ataupun hanya mewakili pribadi saya
sendiri. Saya sengaja menuliskan surat ini sebagai renungan diri saya atas apa
saja yang terjadi belakangan ini terkhusus menyangkut Pilpres di Indonesia.
Buat saya, sepenggal surat yang saya susun dengan penuh kehati-hatian baik
dalam susunan kata demi kata serta isi surat agar dipahami oleh para pembaca
yang saya tuju. Jujur pak, saya bukan ahli bahasa atau ahli surat menyurat
hingga tulisan saya bisa mengenak ke hati dan sanubari kalian semua. Susunan
kata sampai berhasil menjadi kalimat, saya anggap sebagai cermin diri saya
untuk bisa Bapak-bapak maklumi.
Bapak-bapak yang saya hormati,
Berkaitan dengan perkembangai bangsa Indonesia menjelang
Pilpres sampai pada hari penetapan KPU sebagai institusi legal di Indonesia,
saya merasa kehidupan berbangsa dan bernegara kita semakin tidak terarah. Kita
kehilangan kesejatian berbangsa dan bernegara. Saya sedih, dimana segala
informasi baik dari media cetak, elektronik serta dari mulut ke mulut telah
membuat kita terpecah-belah. Jiwa kebangsaan kita sudah tidak terlihat sehingga
kita merasa tidak bersalah menghujat, menghina, bahkan membusukkan pribadi
sesama saudara. Akibatnya, rasa saling menghormati, menyayangi dan bertoleransi
hilang seketika. Pemberitaan di semua media menjadi tidak seimbang disebabkan
saling dukung-mendukung di kedua belah pihak. Sampai hal-hal yang seharusnya privasi sangat mudah
diekspos kepada khalayak ramai. Perasaan saya sedih, marah dan kecewa bila
semua rakyat Indonesia berhak mengcaci maki calon pemimpin bangsa ini (pesan Rasulullah
sebelum ajalnya tiba salah satunya adalah menghormati para pemimpin). Media seakan menjadi pelengkap untuk menyebar
fitnah. Tidak ada lagi pemberitaan yang beretika dan sopan yang juga bisa
dipertanggungjawabkan kepada anak bangsa. Kita seolah merasa benar atas segala
pemberitaan. Saya tidak ingin mengulas
pemberitaan-pemberitaan tersebut karena saya rasa Bapak-bapak kedua pasangan
sudah paham.
Bapak-bapak yang saya hormati,
Begitu banyak informasi ditayangkan di televisi. Saya tidak
sanggup menjelaskan arus informasi yang belum saatnya diterima oleh anak-anak
didik saya. Ketika sedang hangatnya kampanye politik, hampir seluruh anak didik
saya yang sudah memiliki hak pilih, bertanya tentang siapakah calon presiden
yang akan saya pilih. Anehkan pak???, padahal seharusnya hak suara kita
bersifat langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Mereka berubah menjadi
ahli-ahli politik dengan memamerkan jagoannya. Ketika saya tanya ke mereka,
ternyata mereka sendiri tidak paham sedikitpun bagaimana sosok calon yang akan
dipilih. Mereka hanya terpaku pada informasi sepihak baik yang diterima dari
lingkungan keluarga maupun dari media terutama media social. Saya khawatir,
jiwa-jiwa muda mereka terkotori oleh informasi yang tidak berimbang. Mereka
tidak mengerti politik, begitu juga saya.
Sebagai guru sejarah, ada beban mental yang saya pikul untuk
mendidik dan mencetak generasi bangsa sesuai dengan tujuan para pendiri bangsa
kita dahulu. Saya menyesali segala kesesatan informasi di semua media. Adakah rasa
bersalah di diri anda-anda sekalian bila hanya gara-gara Pilpres, keadaan hidup
rakyat Indonesia berubah menjadi rakyat yang beringas. Apalagi informasi sangat
mudah diakses lewat internet. Saya mengerti pak, derasnya arus informasi
melalui internet tidak bisa dihadang seketika. Anak-anak sekarang lebih pintar
dari generasi tua seperti kita untuk mengakses internet. Mulai dari merubah
postingan gambar yang sering tidak sopan, memutar-balikkan fakta kebenaran sang
calon, mempleseti kata-kata sang calon sampai pada gambar-gambar yang menghina
agama. Apa ini yang kalian inginkan??? Tidak sedihkah kalian bila saatnya nanti
generasi penerus kalian kehilangan keelokan budi pekerti??? Tidak takutkah
kalian andai nanti generasi seperti mereka yang bakal meneruskan perjuangan
bapak-bapak bangsa kita harus berperang opini yang tidak bertanggung jawab
bahkan menumpahkan darah saudaranya??? Apakah iman kita sebagai umat beragama
tidak menjadi sandaran bagi kalian untuk mencegah perang urat syaraf??? Tidak
lelahkah kita setelah beratus tahun dijajah bangsa lain dan kelak akan terjadi
perang saudara???
Bapak-bapak yang saya hormati,
Saya sangat kecewa atas perkembangan kehidupan berbangsa dan
bernegara kita sekarang. Banyak persoalan lain dalam setiap kehidupan ini yang
terus membebani kita. Kemiskinan semakin merajalela akibat korupsi, kemelaratan
di setiap daerah merupakan cermin kebodohan, melorotnya budi pekerti anak
bangsa, sulitnya mencari nafkah, mengecap pendidikan karena sekarang ini
pendidikan serasa mahal buat mereka yang hasil kerjanya cukup buat makan dan
itupun tidak memenuhi syarat gizi dan lain sebagainya. Percuma kalian semua
berkoar-koar andai watak generasi muda
sudah terkontaminasi oleh pemberitaan yang tidak mendasar. Kasihan anak bangsa
ini, Revolusi Mental, Pendidikan Gratis 12 tahun, atau apa saja yang sudah
dirumuskan dalam visi dan misi kalian tak akan mampu membuat bangsa ini
sejahtera bila kecerdasan emosional anak bangsa keluar dari keluhuran budi. Sudah
lelah pendahulu kita mengorbankan jiwa dan raganya hanya untuk membangun RUMAH
INDONESIA. Seharusnya RUMAH INDONESIA berdiri dengan indahnya karena dihuni
oleh keberagaman. Agama, suku, ras dan golongan di dunia ini hanya ada di RUMAH
INDONESIA. Dulu, susah payah kita membangun Rumah cinta kita itu.
Berganti-ganti orang lain ingin merusak rumah yang telah kita dirikan. Topan
dan badai tak mampu meruntuhkan Rumah Cinta bangsa ini. Terpaan atas rumah kita
mampu kita cegah. Terpaan itu bukan hanya berasal dari dalam negeri namun juga
dari luar negeri. Semua sudah kita jalani dan sampai sebelum Pilpres, Rumah Cinta kita tidak
tergoyahkan oleh rongrongan tersebut. Tetapi ketakutan saya semakin besar bila
kedua kubu tidak mampu menarik diri. Pernyataan dari kedua kubu mengganggu
sanubari saya, entah kalau di sanubari anda-anda sekalian. Rakyat Indonesia
terkotak-kotak, sayangnya kotak-kotak yang tercipta tidak berisi. Agama tak
sanggup lagi membatasi kita untuk bersopan santun dalam berbicara.
Bapak-bapak yang saya hormati,
Saya tidak ingin menyalahkan siapapun. Tidak bisa kita
pungkirin bahwa yang terjadi sekarang adalah proses dari kedewasaan
demokrasi di tanah air. Berulang kali
dalam catatan sejarah, bangsa Indonesia berusaha mencari formasi yang tepat
demokrasinya. Jatuh bangun pemerintah Indonesia untuk mencari demokrasi
berujung pada peristiwa demi peristiwa yang sering menguji kesaktian ideologi
Pancasila. Dinamika kehidupan ideologi Pancasila menjadi satu kesatuan utuh
yang terus terpatri di jiwa rakyat Indonesia. Pembelajaran atas segala peristiwa
sejarah diharapkan mampu membuat kita tetap bersatu. Rasa Nasionalisme kitapun
tidak bisa diukur oleh bangsa lain selama pemimpin bangsa mau menghargai
keberagaman termasuk keberagaman pendapat positif. Namun setiap rentetan
peristiwa di tanah air kini, bergerak tanpa batas. Terpikir oleh saya apakah
semua peristiwa ini tidak akan memicu perpecahan NKRI??? Tidak terketukkah hati
anda-anda untuk segera menyudahi segala perselisihan yang terjadi??? Saya malu
bila memiliki calon pemimpin bangsa yang tidak berbesar hati menyikapi sesuatu
yang menguntungkan atau merugikan kelompoknya. Kasihan anak-anak bangsa yang
hanya bisa melihat kesombongan yang ditayangkan di setiap media.
Bapak-bapak yang saya hormati,
Besar harapan saya pada anda-anda sekalian untuk
menghentikan polemik ini. Siapapun diantara kalian yang nantinya dipercaya
rakyat, hal pertama yang perlu anda lakukan, segera perbaikilah mental anak
bangsa. Beri mereka keleluasaan demi kemajuan bangsa. Kembalikan jati diri
bangsa Indonesia pada kesejatian hidup sesuai yang kita harapkan. Tangan-tangan
kekar generasi pelurus ini diharapkan bisa meluruskan jiwa-jiwa sesat kita.
Saya bukan ingin menggurui, saya hanya ingin memberika masukan yang tidak
seberapa ini untuk dicerdasi karena saya yakin anda-anda sekalian adalah
orang-orang cerdas yang kami miliki sekarang. Dengan kecerdasan otak dan hati,
anda-anda menjadi tauladan yang akan terus kami kenang seperti kami mengenang
bapak bangsa sebelumnya. Semoga juga kecerdasan tersebut akan tertulis dalam
sejarah bangsa sehingga kelak dalam buku-buku sejarah kita, anak bangsa akan
bangga bercerita pada dunia karena memiliki para pemimpin berjiwa besar yang
mengutamakan kesantunan dan etika leluhur moyang Indonesia. Perjalan sejarah
bangsa merupakan pengalaman paling berharga buat kemajuan kita. Buatlah kami bahagia dan selalu tersenyum
ketika menghantarkan anak-anak bangsa tumbuh besar. Jangan jadikan bangsa ini
seperti Isreal-Palestina, Syria, Ukraen, atau bangsa lain yang masih berkecamuk
dengan perang saudara. Jangan giring kami kepada perpecahan. Jadikanlah bangsa
ini seperti indahnya RUMAH INDONESIA yang di dalamnya berisi kebahagian,
kesejahteraan, keluhuran budi pekerti dan keindahan lainnya yang juga membuat
bangsa lain mencontoh kehidupan indah kita di RUMAH INDONESIA.
Bapak-bapak yang saya hormati,
Di akhir surat ini, izinkan saya memohon maaf sekali lagi
andai surat saya ini tidak bermaanfaat dan menjadi beban pikiran. Saya hanya
berharap sedikit dari harapan lain rakyat Indonesia. Doa saya adalah semoga
kita akan tetap berdiri tegak di hadapan mata dunia. Saya sadar bahwa saya
bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Yang saya miliki hanya satu, saya
cinta kedamaian dan ketenangan. Keteladan anda-anda adalah modal bagi kami
untuk berjalan berdampingan dengan bangsa lain. Terima kasih atas waktu untuk
membaca surat saya, dan terima kasih atas renungan hati bila surat ini bisa menyangkut
di hati dan jiwa anda. Saya cinta Indonesia dan saya tidak ingin Indonesia
luluh lantak oleh kesombongan rakyatnya. Salam Bhineka Tunggal Ika……
Salam saya Diah WR (salah satu guru sejarah di SMA N. 4
Batam)