DI MANA MAAF ITU????nasional.
Sudah terlalu banyak peristiwa yang terjadi di Indonesia. Isu pun semakin berkembang. Bukan hanya isu tentang korupsi, perdagangan manusia, kegagalan pemerintah sampai pada isu yang paling sensitif bukan saja untuk dibahas juga untuk dicarikan solusinya. Ketika bangsa indonesia sibuk dengan penangan masalah korupsi, bencana alam yang hampir mengguncang seluruh bumi persada, dan sebagainya. Ternyata kita terlupakan oleh satu masalah yang sampai saat ini hanya seperti angin malam. Dingin ketika dirasakan sakit ketika dipikirkan, yaitu "Pelanggaran HAM".
Isu tentang pelagaran Ham mulai menjadi besar ketika terjadinya peristiwa Dili. Hingga akhirnya saudara indonesia itupun harus pergi dari pelukan ibu pertiwi. Namun, Indonesia sedikit menarik nafas karena disaat begitu banyaknya komentar pedas terhadap kebijakan politik yang kontroversi saat itu, Aceh di ujung barat Indonesia mau kembali ke pakuan ibu pertiwi dengan ditandatanganinya MOU (Memorandum Of Understanding) di Helsinki.
Kemudian PR pemerintah makin panjang. Aceh boleh kembali ke NKRI, tetapi RMS, dan OPM di Papua seperti duri dalam daging bangsa Indonesia. Pemerintah makin kalut, ancaman demi ancaman menjadikan pemerintah berpikir keras. Apalagi pemerintah tidak hanya menghadapi pemberontak itu sendiri melainkan juga harus menghadapi negara-negara asing yang mendukung pemberontakan, seperti Belanda yang secara tidak langsung mendukung RMS dan Australia yang mendukung OPM. Tantangan dan ancaman ini, mungkin saja bisa memicu ketegangan di dalam negeri serta posisi politik indonesia di dunia Internasional.
Hanya kedewasaan dan kebijaksanaan pemerintah lah yang mampu menyelesaikan segala masalah yang ada di Idonesia. Termasuk kedewasaan dan kebijaksanaan pemerintah indonesia yang dituntut oleh rakyatnya untuk menyelesaikan masalah HAM lainnya, yaitu peristiwa 30 September 1965. Kita tak perlu membahas apa dan bagaimana peristiwa tersebut menorehkan luka parah di hati bangsa. Tetapi sebaiknya kita membuat pemikiran untuk mengakui segala kesalahan di masa lalu membuat bangsa ini lebih berbuat. Mungkin orang bertanya, apa itu??
Bila kita bercermin kepada bangsa Jerman, Norwegia, Jepang ataupun bangsa Eropa lain, kemungkinan besar Indonesia mampu menjadikan dirinya sebagai bangsa besar. Bangsa-bangsa itu berani memohon maaf atas kesalahan yang cipta pada masa pemerintahan Nazi dan Jepang masa koloni.Tak akan terwujud cita-cita besar Bung Karno yang menyimpulkan bahwa Bangsa yang besar adalah Bangsa yang mengingat jasa Para pahlawan. Sebab pemerintah indonesia tidak pernah mau memohon maaf atas masa kelam bangsanya. Cobalah kita lihat Jerman, Bangsa Jerman melalui pemerintah, selalu memohon maaf atas kesalahan sejarah bangsa. Mereka selalu menunjukkan kedewasaan dengan memohon maaf melalui pemerintah.
Kalau kita rilis kembali pemikiran kita, hanya pada masa pemerintah Gus Dur lah pemerintah indonesia meminta maaf. Dicabutnya Tap MPRS No. XXV/tahun 1966 tentang napol dan tapol sebagai wujud kedewasaan sang pemimpin bangsa. Lalu bagaimana dengan pemimpinan bangsa selanjutnya. Salahkah bila kita mengkategorikan mereka sebagai pemimpin yang tidak dewasa, hanya mereka yang mampu menjawabnya.
Ketika peristiwa Rawagede berhasil diselesaikan oleh pemerintah Belanda, Mengapa peristiwa 30 September 1965 tidak mampu diselesaikan. Kemana pemerintah indonesia. Kenapa pemerintah Belanda lebih hebat. apakah karena terlalu banyak kesimpangsiuran cerita 30 September 1965. Bagaimana nasib keturunan korban. kemana meraka akan menuntut. bila korban Rawagede bisa menuntut ke pemerintah Belanda, kemana korban 30 September 1965 menuntut.
Begitu banyak pertanyaan yang terlontar, namun tak satupun terjawab dengan baik. Penulis sendiri termasuk korban yang bertanya, karena penulis adalah salah satu keturunan korban dari peristiwa pemberontak PKI yang terjadi di Lubuk Pakam yang terkenal dengan peristiwa Bandar Betsi. Sampai sekarang, penulis dan keluarga tidak mampu mencari tahu keberadaan atau makam dari kakek penulis. Telah hampir seumuran dengan peristiwa itu sendiri, kami tidak mampu mencari makam atau keberadaannya.
Kemana maaf itu???