Kamis, 25 September 2014

“BULAN MERINDU” SOSOK KARTINI DALAM UNTAIAN SEJARAH BANGSA





Dunia feminisme begitu berkembang menjadi dinamika gender dalam kehidupan manusia. Kegagahan kaum maskulin berubah arif di hadapan kaum perempuan. Gemerlap kewibawaan maskulin seolah diseimbangi oleh sepak terjang kaum feminis, tak terkecuali gerakan modern feminisme di Indonesia. Kita banyak mengenal segudang perempuan hebat pada zamannya yang tak pernah surut mencipta segala ide kesetaraan gender. Kungkungan adat-istiadat budaya timur mengiringi perjalanan perempuan-perempuan hebat Indonesia untuk terus memperjuangkan kesamaan hak sesuai perkembangan zaman.  Dalam catatan sejarah, tertoreh beberapa nama perempuan hebat yang pernah dimiliki bangsa ini. Mulai dari Malahayati, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika, RA, Kartini, Rasuna Said dan sebagainya.
Pemikiran modern mereka tidak lepas dari status sosial yang disandang hingga peluang serta kesempatan mampu diraih mereka meski harus selalu berbenturan dengan budaya ketimuran. Jiwa-jiwa memberontak atas ketertidasan adalah modal bagi kaum perempuan untuk terus berperang batin demi menciptakan mimpi agar kelak  ada pengakuan dari kaum pria akan keberadaan perempuan dalam menyumbangkan kehidupan manusia yang lebih baik.
Dalam catatan sejarah Indonesia, bangsa kita tidak bisa melepaskan begitu saja peran aktif perempuan-perempuan yang gencar memperjuangkan kemerdekaan.  Organisasi perempuan Indonesia pertama kali muncul pada tahun 1879 sampai 1904 yang dipelopori oleh RA. Kartini. Kemunculan organisasi tersebut memiliki arti besar sebagai sumbangsih terhadap ketercapaian kemerdekaan.  Kontribusi penting yang mereka lakukan semula hanya berkisar pada tataran persamaan gender (kesamaan hak). Persamaan derajat, pengakuan, dan perlindungan terhadap hak-hak kaum perempuan adalah hal mendasar dalam perjalanan kehidupan manusia. Mendirikan sekolah-sekolah bagi kaum perempuan mampu mewarnai masa pergerakan kebangsaan saat itu.
Selain Kartini, Dewi Sartika juga menjadi pelopor gerakan perempuan di Jawa Barat. Ia mendirikan sekolah Keutamaan Isteri untuk kaum perempuan di Jawa Barat. Di Minahasa pelopor gerakan perempuan dari Minahasa adalah Maria Walanda Maramis yang belajar bahasa Belanda dari suaminya, Yosef Walanda. Berkat pengetahuannya, ia sadar akan nasib kaum perempuan Minahasa yang jauh tertinggal. Maka pada tahun 1927, ia berjuang dan berhasil mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya).
Pada masa-masa berikutnya, kesadaran perempuan Indonesia untuk hidup lebih baik makin terbuka lebar. Ditandai dengan keberadaan organisasi-organisasi perempuan yang semakin banyak berdiri. Organisasi perempuan yang muncul semisal;
  1. Perkumpulan Kartinifonds di Semarang,
  2. Putri Merdika di Jakarta,
  3. Wanita Rukun Santoso di Malang,
  4. Maju Kemuliaan di Bandung,
  5. Budi Wanito di Solo,
  6. Kerajinan Amai Setia di Kota Gadang, Sumatera Barat,
  7. Serikat Kaum Ibu Sumatera di Bukit Tinggi,
  8. Gorontalosche Mohammedaansche Vrouwenvereniging di Sulawesia Utara,
  9. Ina Tuni di Ambon, dan lain-lain.
Selain itu, terdapat juga organisasi perempuan yang merupakan bagian dari induk organisasi yang lebih besar. Organisasi perempuan tersebut antara lain;
  1. Aisiyah (Wanita Muhammadiyah),
  2. Puteri Indonesia (Wanita dari Pemuda Indonesia),
  3. Wanita Taman Siswa.
Organisasi perempuan yang bergerak di bidang politik antara lain Isteri Sedar yang didirikan di Bandung oleh Suwarni Jayaseputra. Organisasi ini bertujuan untuk mencapai Indonesia merdeka. Sedangkan organisasi Isteri Indonesia pimpinan Maria Ulfah dan Ibu Sunaryo Mangunpuspito bertujuan untuk mencapai Indonesia Raya.
Organisasi-organisasi tersebut mengadakan Kongres Persatuan Wanita (Perempuan) Indonesia di Yogyakarta pada tanggal 22 sampai 25 Desember 1928. Hari pembukaan kongres tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Dalam kongres tersebut dibentuk juga PPII (Perserikatan Perhimpunan Isteri Indonesia) sebagai kumpulan organisasi perempuan.
Lintasan sejarah pergerakan perempuan Indonesia bukan lagi menjadi asing terhadap pengakuan peran perempuan. Bukti nyata keberadaan toko-tokoh perempuan Indonesia berbaur pada penyematan posisi perempuan sebagai kelompok terhormat yang tidak berhenti menggapai emansipasi. Namun sering kali peran serta perempuan Indonesia terhenti hanya karena pemaknaan siapakah tokoh dibalik munculnya ide emansipasi perempuan Indonesia. Selalu saja kesimpulan tersebut meletakan RA. Kartini selaku ibu perempuan Indonesia, pioneer serta pencetus ide emansipasi Indonesia. Keagungan nama Kartini telah disematkan sebagai hari Kartini sesuai dengan tanggal kelahirannya. Padahal, masih banyak tokoh perempuan lain yang bisa jadi lebih dulu ada dan terus menerus berusaha menembus kungkungan adat guna memperjuangkan keberadaan mereka agar terlihat di hadapan kaum pria. Contoh saja, Malahayati, nama lengkapnya Keumalahayati dari Aceh dan Martha Christina Tiahahu dari  Ambon. Keberanian dua tokoh di atas dalam memimpin perang di tanah kelahiran untuk mendepak kaum imperialis Barat merupakan cikal bakal keberadaan peran perempuan di tengah-tengah kaum maskulin. Seorang Laksaman laut yang akibat keberaniannya berhasil membunuh Cornelis De Houtman yang ingin menguasai Bandar dagang di Kesultanan Aceh. Lalu Martha Christina Tiahahu, juga merupakan perempuan hebat dari Ambon yang berhasil menggempur pasukan Belanda ketika bercokol di Pulau Saparua, Maluku Tengah.
Lantas bagaimana peran Kartini? Begitu hebatkah Kartini hingga cermin emansipasi perempuan Indonesia selalu dikaitkan dengan nama besarnya? Paparan di atas bukan juga ingin mengkerdilkan salah satu perempuan hebat sekelas Kartini. Akan tetapi kita perlu meluruskan bahwa keberadaan emansipasi perempuan di tanah air harus dimulai dari tokoh-tokoh hebat pendahulu Kartini yang juga lebih dulu berperan menunjukkan jati diri perempuan sebagai bagian dari kehidupan tanpa melompati keberadaan kaum pria. Mereka lebih dulu ada bahkan lebih dulu mewujudkan mimpi untuk memperlihatkan pada dunia akan kehebatannya.  
Pencitraan Kartini dilakukan oleh kelompok dominan secara hiperbolis melalui buku-buku sejarah dan ritual setiap tanggal 21 April. Lewat buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah, Kartini dianggap sebagai sosok perempuan terhebat di Indonesia. Dia dianggap pemikir kemajuan dan pembebas kaum perempuan pribumi dari kebodohan dan keterbelakangan. Sosok Kartini juga dianggap sebagai perempuan yang mampu melawan belenggu feodalisme, kawin paksa dan poligami serta sejumlah penindasan, sehingga kedudukannya begitu diagungkan dalam sejarah Indonesia.
Dibalik itu semua, ada hal yang berusaha dielakkan tentang bagaimana hidup Kartini sebenarnya. Perang batin di diri Kartini seyogyanya menjadi cermin kehebatan Kartini yang hanya mampu dia tuliskan dalam surat-suratnya kepada para sahabat Belanda Kartini, seperti Ny J Rosa Abendanon, Stella Zeenhandelaar, Ny N Van Kol, GK Anton dan lainlain. Penolakan poligami, adat ‘pingitan’ bagi perempuan Jawa sebelum dinikahkan sehingga perempuan Jawa dianggap tidak perlu bersekolah karena jodoh mereka sudah ditentukan oleh keluarga. Kritikan Kartini terhadap poligami yang sering dilakukan oleh priyayi Jawa serta keinginan Kartini untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak perempuan, seperti mimpi yang tidak kesampaian. Imajinasi Kartini lewat tulisan-tulisannya inilah, pada akhirnya membuat Ny. Abendanon berupaya mewujudkan dalam sebuah buku berbahas Belanda berjudul ‘Door Duisternis tot Licht’ yang secara harfiah berarti Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Pada tahun 1922, buku ini diterbitkan dalam bahasa Melayu oleh Balai Pustaka dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’: Boeah Pikiran.
Pada kenyataannya, semua ide Kartini memperjuangkan kesetaraan gender (emansipasi), seolah mimpi yang tak berkesudahan (Bulan Merindu). Kartini tetap harus menjalani ‘pingitan’ sebelum dinikahkan dengan Adipati Rembang. Sekolah untuk perempuan sebagai bagian cita-citanya tidak terwujud. Dan malangnya lagi kebencian Kartini terhadap kebiasaan priyayi Jawa yang berpoligami, membawa Kartini menjadi salah satu istri dari Adipati Rembang.
Tetap saja, mainstream Kartini terhadap cita-citanya meraih kesetaraan gender, tidak lantas dianggap sebagai pola pikiran modern perempuan pada zamannya. Satu hal lagi yang terlepas dari perdebatan, adakah kita tahu bahwa Kartini sudah menjadi perempuan Jawa yang memposisikan dirinya sebagai sosok perempuan modern Eropa yang menganggap perempuan pribumi subaltern (lemah, bodoh dan terbelakang). Hal ini pernah disampaikan penulis seperti Misbahus Surur (2006) melukiskan Kartini sebagai seorang ‘perempuan pemimpi’. Kartini hanya mampu bermimpi dan impiannya itu hanya bersifat utopia belaka. Kartini juga dianggap menganut pola pikir yang dikotomik yang mendiskriminasi perempuan pribumi sebagai kelompok subaltern. Penulis seperti Gadis Arivia (2003) melihat bahwa Kartini yang bersentuhan dengan pengetahuan Barat, justru memposisikan dirinya sebagai perempuan barat yang modern dan maju, sedangkan perempuan pribumi dianggap sebagai subaltern.
Kartini muda membeci budaya Patriarhi Jawa tetapi terjebak pada budaya Patriarhi Jawa yang tertindas, bodoh dan terbelakang. Menolak poligami, kawin paksa, bermimpi mendirikan sekolah, serta menjadikan dirinya perempuan pemikir modern namun terjebak pada situasi yang bertolak belakang dari mimpinya.Meski demikian, Kartini telah menjadi bagian Pahlawan Nasional Indonesia yang tercatat dalam Untaian Sejarah Bangsa sebagai Pelopor Emansipasi Perempuan Indonesia. Melalui Kartini pula kita bisa meninjau ulang atas peran perempuan. Perbandingan peran Kartini terhadap tokoh-tokoh perempuan pejuang sebelum dia, sudah bermuara pada pengenalan sejarah bangsa. Dengan begitu pro-kontra Kartini sebagai ibu emansipasi perempuan Indonesia mengawali peninjauan kembali sejarah perempuan Indonesia. Sehingga diharapkan Historiografi Perempuan Dalam Sejarah telah berwarna disebabkan oleh pro dan kontra atas sosok Kartini.
Rekam Jejak sejarah perempuan Indonesia akan lebih berperan andil dalam menciptakan gambaran bagaimana selayaknya kita bertindak. Tetap saja perempuan pada kasus-kasus tertentu menjadi kelompok marginal yang dikorbankan. Dengan memposisikan perempuan sesuai dengan kodratnya, keterwakilan perempuan di segala bidang kehidupan harus terus diperjuangkan. Kaum perempuan wajib menyadari bahwa kita dan mereka sudah sepantasnya merubah mindset demi melahirkan generasi baru yang lebih baik. Dari perempuan akan muncul generasi tangguh yang mewariskan ketangguhan ibunya. Dunia ini tidak akan mampu berjalan tanpa kehadiran kaum feminis yang memanfaatkan peluang tanpa lari dari kodrat Tuhan.



Selasa, 16 September 2014

SURAT BUAT SANG CALON PEMIMPIN




Batam, 13 Juli 2013

Assalamulaikum Wr.Wb, Salam sejahtera buat kita semua
Sebelumnya saya mengucapkan beribu maaf andai  surat saya ini dianggap tidak berguna bagi Bapak-bapak kedua pasangan. Semua yang saya tuliskan di sini hanya merupakan curahan hati saya sebagai salah satu anak bangsa dan pendidik yang mungkin bisa mewakili hati anak bangsa dan pendidik lain ataupun hanya mewakili pribadi saya sendiri. Saya sengaja menuliskan surat ini sebagai renungan diri saya atas apa saja yang terjadi belakangan ini terkhusus menyangkut Pilpres di Indonesia. Buat saya, sepenggal surat yang saya susun dengan penuh kehati-hatian baik dalam susunan kata demi kata serta isi surat agar dipahami oleh para pembaca yang saya tuju. Jujur pak, saya bukan ahli bahasa atau ahli surat menyurat hingga tulisan saya bisa mengenak ke hati dan sanubari kalian semua. Susunan kata sampai berhasil menjadi kalimat, saya anggap sebagai cermin diri saya untuk bisa Bapak-bapak maklumi.
Bapak-bapak yang saya hormati,
Berkaitan dengan perkembangai bangsa Indonesia menjelang Pilpres sampai pada hari penetapan KPU sebagai institusi legal di Indonesia, saya merasa kehidupan berbangsa dan bernegara kita semakin tidak terarah. Kita kehilangan kesejatian berbangsa dan bernegara. Saya sedih, dimana segala informasi baik dari media cetak, elektronik serta dari mulut ke mulut telah membuat kita terpecah-belah. Jiwa kebangsaan kita sudah tidak terlihat sehingga kita merasa tidak bersalah menghujat, menghina, bahkan membusukkan pribadi sesama saudara. Akibatnya, rasa saling menghormati, menyayangi dan bertoleransi hilang seketika. Pemberitaan di semua media menjadi tidak seimbang disebabkan saling dukung-mendukung di kedua belah pihak. Sampai  hal-hal yang seharusnya privasi sangat mudah diekspos kepada khalayak ramai. Perasaan saya sedih, marah dan kecewa bila semua rakyat Indonesia berhak mengcaci maki calon pemimpin bangsa ini (pesan Rasulullah sebelum ajalnya tiba salah satunya adalah menghormati para pemimpin).  Media seakan menjadi pelengkap untuk menyebar fitnah. Tidak ada lagi pemberitaan yang beretika dan sopan yang juga bisa dipertanggungjawabkan kepada anak bangsa. Kita seolah merasa benar atas segala pemberitaan.  Saya tidak ingin mengulas pemberitaan-pemberitaan tersebut karena saya rasa Bapak-bapak kedua pasangan sudah paham.
Bapak-bapak yang saya hormati,
Begitu banyak informasi ditayangkan di televisi. Saya tidak sanggup menjelaskan arus informasi yang belum saatnya diterima oleh anak-anak didik saya. Ketika sedang hangatnya kampanye politik, hampir seluruh anak didik saya yang sudah memiliki hak pilih, bertanya tentang siapakah calon presiden yang akan saya pilih. Anehkan pak???, padahal seharusnya hak suara kita bersifat langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Mereka berubah menjadi ahli-ahli politik dengan memamerkan jagoannya. Ketika saya tanya ke mereka, ternyata mereka sendiri tidak paham sedikitpun bagaimana sosok calon yang akan dipilih. Mereka hanya terpaku pada informasi sepihak baik yang diterima dari lingkungan keluarga maupun dari media terutama media social. Saya khawatir, jiwa-jiwa muda mereka terkotori oleh informasi yang tidak berimbang. Mereka tidak mengerti politik, begitu juga saya.
Sebagai guru sejarah, ada beban mental yang saya pikul untuk mendidik dan mencetak generasi bangsa sesuai dengan tujuan para pendiri bangsa kita dahulu. Saya menyesali segala kesesatan informasi di semua media. Adakah rasa bersalah di diri anda-anda sekalian bila hanya gara-gara Pilpres, keadaan hidup rakyat Indonesia berubah menjadi rakyat yang beringas. Apalagi informasi sangat mudah diakses lewat internet. Saya mengerti pak, derasnya arus informasi melalui internet tidak bisa dihadang seketika. Anak-anak sekarang lebih pintar dari generasi tua seperti kita untuk mengakses internet. Mulai dari merubah postingan gambar yang sering tidak sopan, memutar-balikkan fakta kebenaran sang calon, mempleseti kata-kata sang calon sampai pada gambar-gambar yang menghina agama. Apa ini yang kalian inginkan??? Tidak sedihkah kalian bila saatnya nanti generasi penerus kalian kehilangan keelokan budi pekerti??? Tidak takutkah kalian andai nanti generasi seperti mereka yang bakal meneruskan perjuangan bapak-bapak bangsa kita harus berperang opini yang tidak bertanggung jawab bahkan menumpahkan darah saudaranya??? Apakah iman kita sebagai umat beragama tidak menjadi sandaran bagi kalian untuk mencegah perang urat syaraf??? Tidak lelahkah kita setelah beratus tahun dijajah bangsa lain dan kelak akan terjadi perang saudara???
Bapak-bapak yang saya hormati,
Saya sangat kecewa atas perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara kita sekarang. Banyak persoalan lain dalam setiap kehidupan ini yang terus membebani kita. Kemiskinan semakin merajalela akibat korupsi, kemelaratan di setiap daerah merupakan cermin kebodohan, melorotnya budi pekerti anak bangsa, sulitnya mencari nafkah, mengecap pendidikan karena sekarang ini pendidikan serasa mahal buat mereka yang hasil kerjanya cukup buat makan dan itupun tidak memenuhi syarat gizi dan lain sebagainya. Percuma kalian semua berkoar-koar andai  watak generasi muda sudah terkontaminasi oleh pemberitaan yang tidak mendasar. Kasihan anak bangsa ini, Revolusi Mental, Pendidikan Gratis 12 tahun, atau apa saja yang sudah dirumuskan dalam visi dan misi kalian tak akan mampu membuat bangsa ini sejahtera bila kecerdasan emosional anak bangsa keluar dari keluhuran budi. Sudah lelah pendahulu kita mengorbankan jiwa dan raganya hanya untuk membangun RUMAH INDONESIA. Seharusnya RUMAH INDONESIA berdiri dengan indahnya karena dihuni oleh keberagaman. Agama, suku, ras dan golongan di dunia ini hanya ada di RUMAH INDONESIA. Dulu, susah payah kita membangun Rumah cinta kita itu. Berganti-ganti orang lain ingin merusak rumah yang telah kita dirikan. Topan dan badai tak mampu meruntuhkan Rumah Cinta bangsa ini. Terpaan atas rumah kita mampu kita cegah. Terpaan itu bukan hanya berasal dari dalam negeri namun juga dari luar negeri. Semua sudah kita jalani dan sampai  sebelum Pilpres, Rumah Cinta kita tidak tergoyahkan oleh rongrongan tersebut. Tetapi ketakutan saya semakin besar bila kedua kubu tidak mampu menarik diri. Pernyataan dari kedua kubu mengganggu sanubari saya, entah kalau di sanubari anda-anda sekalian. Rakyat Indonesia terkotak-kotak, sayangnya kotak-kotak yang tercipta tidak berisi. Agama tak sanggup lagi membatasi kita untuk bersopan santun dalam berbicara.

Bapak-bapak yang saya hormati,
Saya tidak ingin menyalahkan siapapun. Tidak bisa kita pungkirin bahwa yang terjadi sekarang adalah proses dari kedewasaan demokrasi  di tanah air. Berulang kali dalam catatan sejarah, bangsa Indonesia berusaha mencari formasi yang tepat demokrasinya. Jatuh bangun pemerintah Indonesia untuk mencari demokrasi berujung pada peristiwa demi peristiwa yang sering menguji kesaktian ideologi Pancasila. Dinamika kehidupan ideologi Pancasila menjadi satu kesatuan utuh yang terus terpatri di jiwa rakyat Indonesia. Pembelajaran atas segala peristiwa sejarah diharapkan mampu membuat kita tetap bersatu. Rasa Nasionalisme kitapun tidak bisa diukur oleh bangsa lain selama pemimpin bangsa mau menghargai keberagaman termasuk keberagaman pendapat positif. Namun setiap rentetan peristiwa di tanah air kini, bergerak tanpa batas. Terpikir oleh saya apakah semua peristiwa ini tidak akan memicu perpecahan NKRI??? Tidak terketukkah hati anda-anda untuk segera menyudahi segala perselisihan yang terjadi??? Saya malu bila memiliki calon pemimpin bangsa yang tidak berbesar hati menyikapi sesuatu yang menguntungkan atau merugikan kelompoknya. Kasihan anak-anak bangsa yang hanya bisa melihat kesombongan yang ditayangkan di setiap media.
Bapak-bapak yang saya hormati,
Besar harapan saya pada anda-anda sekalian untuk menghentikan polemik ini. Siapapun diantara kalian yang nantinya dipercaya rakyat, hal pertama yang perlu anda lakukan, segera perbaikilah mental anak bangsa. Beri mereka keleluasaan demi kemajuan bangsa. Kembalikan jati diri bangsa Indonesia pada kesejatian hidup sesuai yang kita harapkan. Tangan-tangan kekar generasi pelurus ini diharapkan bisa meluruskan jiwa-jiwa sesat kita. Saya bukan ingin menggurui, saya hanya ingin memberika masukan yang tidak seberapa ini untuk dicerdasi karena saya yakin anda-anda sekalian adalah orang-orang cerdas yang kami miliki sekarang. Dengan kecerdasan otak dan hati, anda-anda menjadi tauladan yang akan terus kami kenang seperti kami mengenang bapak bangsa sebelumnya. Semoga juga kecerdasan tersebut akan tertulis dalam sejarah bangsa sehingga kelak dalam buku-buku sejarah kita, anak bangsa akan bangga bercerita pada dunia karena memiliki para pemimpin berjiwa besar yang mengutamakan kesantunan dan etika leluhur moyang Indonesia. Perjalan sejarah bangsa merupakan pengalaman paling berharga buat kemajuan kita.  Buatlah kami bahagia dan selalu tersenyum ketika menghantarkan anak-anak bangsa tumbuh besar. Jangan jadikan bangsa ini seperti Isreal-Palestina, Syria, Ukraen, atau bangsa lain yang masih berkecamuk dengan perang saudara. Jangan giring kami kepada perpecahan. Jadikanlah bangsa ini seperti indahnya RUMAH INDONESIA yang di dalamnya berisi kebahagian, kesejahteraan, keluhuran budi pekerti dan keindahan lainnya yang juga membuat bangsa lain mencontoh kehidupan indah kita di RUMAH INDONESIA.
Bapak-bapak yang saya hormati,
Di akhir surat ini, izinkan saya memohon maaf sekali lagi andai surat saya ini tidak bermaanfaat dan menjadi beban pikiran. Saya hanya berharap sedikit dari harapan lain rakyat Indonesia. Doa saya adalah semoga kita akan tetap berdiri tegak di hadapan mata dunia. Saya sadar bahwa saya bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Yang saya miliki hanya satu, saya cinta kedamaian dan ketenangan. Keteladan anda-anda adalah modal bagi kami untuk berjalan berdampingan dengan bangsa lain. Terima kasih atas waktu untuk membaca surat saya, dan terima kasih atas renungan hati bila surat ini bisa menyangkut di hati dan jiwa anda. Saya cinta Indonesia dan saya tidak ingin Indonesia luluh lantak oleh kesombongan rakyatnya. Salam Bhineka Tunggal Ika……
Salam saya Diah WR (salah satu guru sejarah di SMA N. 4 Batam)

Senin, 14 April 2014



 PELESTARIAN CAGAR BUDAYA SEBAGAI IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN SEJARAH LOKAL DI KEPULAUAN RIAU
Sebagai salah satu daerah yang pada masanya pernah menjadi pusat tamadun Melayu yang penting di kawasan Selat Melaka, Kepulauan Riau memiliki warisan sejarah yang gemilang. Kegemilangan itu  merupakan modal terpenting bagi masa kini dan masa yang akan datang. Lintasan sejarah Kepulauan Riau tak pernah hilang digerus oleh kemajuan modernisasi zaman terkini.
Jejak masa lampau masih lekat dalam tradisi kehidupan masyarakat Melayu Kepulauan Riau seiring dengan segala kebijakan pemerintah daerah untuk terus menjaga dan melestarikan warisan budaya Melayu sebagai perbedaharaan budaya nasional Indonesia. Kelekatan tradisi tersebut semakin terasa dan tercermin dalam balutan budaya bangsa yang menjadi pijakan di setiap kebijakan daerah yang menjadi unsur dasar kehidupan masyarakat di Kepulauan Riau.
Sejarah masa lampau Kepulauan Riau terlihat jelas pada jejak Kerajaan Riau-Lingga. Kerajaan Riau-Lingga berjaya pada era 1722 sampai 1913. Di periode ini, kerajaan Riau-Lingga mengalami kegemilangan sehingga berujud pada symbol kebesaran di wilayah Melaka. Bahkan Kerajaan Riau-Lingga mampu menjadi sebuah kerajaan Melayu yang mewarisi kebesaran Melaka. Oleh karena itu, arti penting dan peranan kerajaan Riau-Lingga harus diangkat ke permukaan bukan hanya sebagai upaya menyelamatkan sejarah masa lampau namun lebih dari itu ianya amat berguna dalam upaya menanamkan kesadaran sejarah yang pada akhirnya memperkaya khasanah  sejarah lokal di Kepulauan Riau.
Selama ini, pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar sampai sekolah menengah selalu mengambil contoh jejak sejarah yang umumnya terjadi di daerah lain seperti peristiwa sejarah lokal dari Jawa atau Bali yang memiliki keterikatan warisan sejarah.  Padahal peristiwa masa lampau sejarah tidak terbatas pada satu lokasi atau satu daerah saja. Kurangnya ketertarikan kita untuk menulis ulang sejarah memberikan kesan Jawa centris atau Bali centris. Sementara  penulisan sejarah ulang atau historiogarfi sejarah sudah bergeser ke wilayah lain untuk lebih mengembangkan sejarah lokal  daerah lainnya. Apalagi keinginan di setiap daerah untuk terus menggali dan mengekskavasi situs-situs sejarah diharapkan mampu melestarikan cagar budaya baik cagar budaya darat maupun cagar budaya air atau arkeologi darat dan arkeologi bawah air.
Benedetto Croce sejarawan Itali mengatakan bahwa ada suatu aporisma yang selalu dijadikan pijakan bagi penulis sejarah untuk membenarkan mengapa sejarah harus ditulis ulang kembali (the true history is contemporary history). Sejarah yang benar adalah sejarah masa kini yang disimpulkan bahwa setiap generasi berhak menulis dan menafsirkan sejarahnya sendiri sesuai dengan semangat dan jiwa zamannya. Tidak bisa dipungkiri,  kerajaan Riau-Lingga banyak meninggalkan warisan budaya Melayu serta situs-situs sejarah Melayu. Hal ini bisa dilihat di beberapa cagar budaya di Propinsi Kepulauan Riau dan kita juga tidak bisa memungkiri ketika kita menyaksikan cagar-cagar budaya tersebut ada ketakjuban yang luar biasa karena pada zamannya generasi masa lalu dengan sengaja membangun tradisi budaya dalam bentuk folklore atau benda budaya lainnya dengan harapan generasi masa kini turut menjadi saksi untuk melanjutkan pembangunan dan pelestarian warisan budaya yang telah mereka rangkai.
Pengertian cagar budaya dirumuskan secara konstusi  pada UU No. 11 tahun 2010 pasal 1 dengan uraian sebagai berikut; Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Selanjutnya  pada pasal 2; Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan  manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan sejarah perkembangan manusia. Sedangkan Sejarah Lokal merupakan satu atau lebih peristiwa-peristiwa masa lampau manusia yang terjadi di satu wilayah atau daerah.
Meskipun secara historis kerajaan Riau-Lingga telah dihapuskan oleh pemerintah Hindia Belandan pada tahun 1913 sebagaimana yang dimuat dalam stadblat. No. 19 namun warisan berupa benda bergerak dan tidak bergerak dari kerajaan ini masih bisa kita lihat dan rasakan. Bahkan salah satu  budaya Melayu yang berbentuk Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji dijadikan salah satu karya sastra teragung di perjalanan sastra Indonesia. Runtuhnya istana kerajaan Riau-Lingga tidak menghilangkan jejak-jejak sejarah kerajaan tersebut. Pemerintah daerah Kepulauan Riau secara berkesinambungan berusaha menggali dan melestarikan warisan budaya lokal Melayu agar tidak memutuskan mata rantai atau Missing Link antara generasi masa lampau dengan generasi masa kini.
Apapun upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah, tetapi ada satu pertanyaan terselip di pemikiran kita apakah segala upaya ini sudah menghasilkan kerja nyata? Sebab dalam faktanya kita masih menemukan berbagai kenyataan adanya tindakan menelantarkan atau membiarkan beberapa situs sejarah kerajaan Riau-Lingga. Terbengkalainya pelabuhan di kerajaan Riau-Lingga membuat kita bertanya apa dan seberapa  seriusannya pemerintah daerah terhadap warisan budaya masa lalu. Di zamannya pelabuhan tersebut cukup ramai disinggahi oleh kapal-kapal dari wilayah lain. Fungsi pelabuhan yang terletak di kabupaten Lingga, merupakan bukti betapa termasyurnya kerajaan bercorak Melayu ini dikalangan masyarakat Melayu dan di luar masyarakat Melayu Riau-Lingga.  Bukan hanya di ramaikan oleh pedagang lokal saja namun pedagang di luar kerajaan semakin menunjukkan betapa hebatnya geliat perekonomian di kerajaan ini termasuk kehidupan sosio-politik kerajaan.
Sikap miris bergulir andai itikad baik pemerintah daerah hanya terangkai  oleh rumusan kerangka konstitusi tanpa implementasi nyata dengan tujuan melestarikan cagar budaya lokal khususnya cagar budaya Melayu di Kepulauan Riau. Seharusnya kita tidak harus berhenti melakukan penggalian atau ekskavasi situs-situs budaya yang berpusat pada Cagar Budaya darat. Mungkin saja kerajaan Riau-Lingga masih menyimpan warisan budaya yang sudah terkubur atau tenggelam yang selanjutnya bisa dijadikan cagar budaya bawah air. Adanya  permasalahan di lapangan  harus segera diselesaikan dengan serius agar jangan sampai sikap tak acuh kita dimanfaatkan oleh sejarawan atau arkeolog asing untuk kepentingan personal dan kelompok mereka. Penemuan situs arkeologi di Tanah Datar Sumatera Barat oleh Prof. Franz Bonet dari Freie Universitaat jerman di tahun 2010-2012 semestinya memberi pembelajaran dan peringat dini bagi kita bahwa Indonesia adalah ladang research bagi ahli asing tanpa sumbangsih yang berarti buat kepentingan pelestarian cagar budaya nasional maupun lokal.
Alangkah ruginya bangsa ini ketika para ahli asing berhasil mengembangkan kepekaan ilmiah keilmuan mereka yang bersumber dari jejak-jejak sejarah masa lalu bangsa Indonesia sementara kita hanya bisa membiarkan harta warisan masa lalu tercuri dengan sadar tanpa reaksi keras dari bangsa ini sendiri. Bila ini terus kita biarkan bisa jadi missing link sejarah generasi masa lalu dengan generasi masa kini benar-benar terjadi. Permasalah besar tidak bisa kita hindarkan, bukan hanya petaka sejarah yang akan muncul tetapi petaka nasional pasti akan berangsur-angsur pecah karena generasi masa kini akan kehilangan identitas sejarah dan identitas keilmuan. Kesadaran sejarah merupakan parameter guna melengkapi kekayaan bangsa Indonesia yang seterusnya bernilai historis, penting dan ekonomis. Periodesasi sejarah kerajaan Riau-Lingga akan hilang dengan sendiri ketika kesadaran sejarah hancur oleh ketidakacuhan. Dengan begini apakah harapan untuk memperkaya khasanah warisan budaya melalui cagar budaya bisa berujung pada pengembangan historiografi sejarah lokal? Sulit rasanya membayangkan hal ini terselesaikan bila makna teroritis dan praktis tujuan sejarah belum mampu membuahkan hasil yang maksimal.